oleh

Boikot Produk Prancis, Saham Renault Terpuruk Paling Parah

iotoMagz.com – Kampanye boikot produk Prancis masih terus berlangsung melanda Perusahaan-perusahaan besar asal Prancis, Terutama di negara-negara mayoritas muslim seperti Timur-tengah dan Asia. kampanye boikot produk Prancis ini dipicu oleh sikap Presiden Prancis : Emmanuel Macron yang mengeluarkan statement yang dianggap menghina Islam sebagai agama dengan penerbitan kembali karikatur Nabi oleh majalah satir Charlie Hebdo.

Meski para diplomat Prancis berusaha merayu negara-negara mayoritas muslim agar menghentikan kampanye boikot, dengan melegitimasi pernyataan Macron sebagai perang pada terorisme minoritas di Prancis. Namun pernyataan macron yang sangat menyakiti umat islam itu terlanjur dimaknai general terhadap ajaran islam dan yang paling fatal pemasangan karikatur Nabi Muhammad, yang merupakan penghinaan pada Sang Rasul.
Sehingga umat Islam di seluruh dunia marah, mengingat dalam ajaran islam penggambaran Nabi sangat dilarang, apalagi dengan penampakan yang melecehkan.

Hingga awal November 2020 ini, umat islam serta para pemimpin negara-negara islam dunia, termasuk Indonesia juga Malaysia, mengecam keras Presiden Prancis Emmanuel Macron yang mendukung penayangan ulang karikatur Nabi Muhammad. dampaknya banyak demonstrasi digelar di kedutaan Prancis di berbagai negara dan produk-produk dari Perusahaan-perusahaan asal Prancis dihentikan penjualannya di berbagai outlet serta supermarket.

Akibatnya, saham-saham Prancis anjlok secara beruntun selama 4 hari berturut-turut sejak 26 hingga 29 Oktober 2020. Dari 40 saham perusahaan-perusahaan besar pilihan yang tergabung dalam komponen indeks CAC 40, pada penutupan 28 Oktober 2020, sebanyak 38 saham menderita kerugian, hanya 1 saham berhasil membukukan keuntungan, serta 1 saham diperdagangkan tidak berubah.

BACA JUGA :  Goodyear Pertahankan Posisi Pemimpin Industri Ban Indonesia

Renault sebagai Perusahaan produsen mobil multinasional asal Prancis mengalami kerugian terbesar (top loser) pada 28 Oktober 2020, di antara saham-saham unggulan atau blue chips, dengan harga saham yang terpuruk 7,96%.

Perusahaan lain yang sahamnya merosot signifikan antara lain perusahaan konsultan dan layanan IT multinasional Eropa Atos yang kehilangan 7,57%, perusahaan real estate komersial Eropa Unibail-Rodamco-Westfield SE yang anjlok 6,53%. Perusahaan ritel multinasional Carefour mengalami kerugian 2,02% pada penutupan 29 Oktober.


Merayu Grand Syaikh Al Azhar
Kondisi tersebut cukup membuat Pemerintah Prancis kalang-kabut, belum lagi negara tersebut juga sedang dilanda gelombang peningkatan wabah Covid-19. Duta besar Prancis di berbagai negara berusaha merendam aksi boikot tersebut. Di antaranya Duta Besar Prancis untuk Mesir berusaha membujuk Grand Syaikh Al-Azhar Syaikh Ahmad Thayib untuk membantunya menghentikan gelombang boikot produk-produk Prancis. Namun, pimpinan Lembaga Perguruan Tinggi Mesir Al Alzhar tersebut menolaknya secara mentah-mentah.

“Kami tidak menerima negoisasi terkait kasus penghinaan terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan Macron harus segera meminta maaf,” balas Syaikh Ahmad Thayib seperti dilansir azhar.eg pada Rabu 28 Oktober 2020 lalu.

Tak Takut akan Seruan Boikot Produk Prancis, Macron Akan Lanjutkan!
Sampai akhir Oktober 2020, belum ada tanda-tanda Presiden Macron akan meminta maaf pada umat Islam di seluruh dunia terkait pernyataan dan dukungannya pada karikatur Nabi Muhammad. Bahkan pernyataannya cukup keras melegitimasi tindakannya dalam pernyataan di Twitter menanggapi seruan boikot produk Prancis.

BACA JUGA :  Bakal jadi rivalnya Innova, Wuling Victory Mulai Tebar Pesona

dikutip Theguardian pada Senin 26 Oktober 2020, Macron menanggapi seruan boikot dan berbagai demonstrasi yang menampilkan foto dengan cetakan alas sepatu diwajahnya. “Sejarah kami adalah salah satu pertempuran melawan tirani dan fanatisme. Kami akan melanjutkan, ” Tweet Macron dalam tiga bahasa, Prancis, Inggris dan Arab. hal ini cukup kotrandiktif mengingat fakta sejarah bahwa Prancis adalah negara penjajah di masa lalu, bukan negara yang berjuang menghadapi tirani, melainkan negara tirani yang membunuh jutaan rakyat Afrika saat era penjajahan. Fakta itu diungkit oleh Mantan Perdana Menteri Malaysia, Mahatir Muhammad.

“Kami menghormati semua perbedaan dalam semangat perdamaian. Kami tidak akan pernah menerima perkataan yang mendorong kebencian dan kami membela perdebatan yang masuk akal. Kita akan lanjutkan. Kami selalu berpihak pada martabat manusia dan nilai-nilai universal, ” tambah presiden Prancis yang banyak menimbukan kontroversi tersebut.

Pernyataan tersebut juga cukup anomali, mengingat sikapnya yang mendukung penerbitan kembali karikatur yang melecehkan Nabi umat Islam oleh majalah kontroversial Charlie Hebdo. Serta menyataannya yang mengatakan Islam adalah agama dalam krisis. Dimana sikap dan pernyataan Macron tersebut dirasakan oleh umat Islam di seluruh dunia, sebagai hal yang tidak menghargai semangat perdamaian serta merupakan perkataan yang mendorong kebencian pada agama dan tokoh paling dicintai umat Islam, yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.